PARENTING SOCIAL

Bagaimana Mencegah Bullying ?

 

Bullying atau perundungan masih sering kita temukan bahkan kita lihat secara langsung ada disekitar kita. Bullying tak hanya tentang tentang kekerasan secara fisik tetapi juga tentang verbal bullying yang berdampak pada psikis. Dalam tayangan  televisi masih sering kita temukan berita tentang bullying anak-anak sekolah kepada temannya, bahkan tak hanya pada anak tingkat sekolah menengah atas (SMA) tetapi juga kita temukan pada tingkat sekolah dasar (SD).

Atau mungkin kita sendiri pernah menjadi korban dari bullying atau bahkan menjadi pelaku bullying itu sendiri ??? tentu ini adalah sebuah pengalaman traumatis yang membekas bagi sebagian orang.

Sebelumnya mari kita lihat apa definisi dari bullying, menurut American Psychiatric Association (APA), bullying adalah perilaku agresif yang dikarakteristikkan dengan 3 kondisi yaitu (a) perilaku negatif yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan (b) perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu (c) adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak-pihak yang terlibat. Garis besarnya dapat kita simpulkan bullying  adalah suatu tindakan negatif yang dilakukan berulang kepada seseorang secara sengaja mengakibatkan ketidaksenangan atau menyenangkan secara fisik atau psikis.

Bullying tentu meninggalkan trauma yang mendalam bagi korban apalagi bila trauma itu membekas hingga bertahun-tahun lamanya. Itulah mengapa bullying ini adalah suatu masalah yang harus diselesaikan bahkan dicegah. Terkadang bullying tidak hanya kita temukan pada lingkungan sekolah tetapi bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.

Dilingkungan sekolah atau pergaulan yang lebih luas bullying tetap bisa terjadi, apalagi bila ada yang merasa superior dibanding dengan temannya yang memiliki kekurangan.

Dampak dari bullying sendiri sangat banyak, dampak yang dirasakan oleh korban tidak hanya berdampak pada saat kejadian tetapi bisa berlanjut hingga korban dewasa dan membekas secara psikis. Dampak bullying inipun tidak hanya dirasakan oleh korban tetapi juga oleh si pelaku bullying itu sendiri, dan bisa berdampak ke  hal yang lebih luas yaitu masyarakat. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Nurul Hidayati (2012), dalam kasus bullying merupakan perlakuan negatife yang berlangsung terus menerus yang memiliki efek yang sangat negatif, seperti munculnya problem kecemasan, depresi, dan mengalami penurunan kemampuan belajar dikarenakan korban mengalami kesulitan konsetrasi. Terkadang korban bullying megalami depresi yang ekstrim yang bisa membahayakan sang korban dengan melakukan upaya bunuh diri. Dilihat dari dampak yang ditimbulkan bullying jelas merupakan permasalahan yang sangat serius, dan tidak bisa dibiarkan.

Tentu kita tidak mau anak-anak kita menjadi koraban dari bullying bahkan menjadi pelakunya ?

Kejadian bullying yang terjadi di sekolah kadang bahkan sering dianggap bukan menjadi urusan orang tua, atau itu merupakan tanggung jawab guru dan sekolah saja. Padahal ini yang menjadi lebih berat bagi si korban dan dapat memperparah dampak bullying karena kurangnya perhatian atau peran orang tua dalam hal mencegah bullying.

“Learning to Live Together: Preventing Heatred and Violence in child and Adolescence Development” David A. Hamburg dan Beatrix A Hamburg.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurul Hidayati (2012), alternative solusi terhadap bullying dapat dilakukan sebagai berikut;

Perubahan lingkungan, interaksi korban dan pelaku bullying haruslah diubah. Dalam sebuah penelitian menuliskan bahwa perubahan lingkungan sekolah terbukti efektif dalam mencegah bullying. Dimana penitngnya peningkatan kesadaran yang kuat, kesadaran dan skill para guru dan skill semua siswa di sekolah terlepas dari siswa tersebut korban atau pelaku.

Mencegah lebih baik, mencegah lebih baik dari melakukan intrervensi merupakan prinsip yang perlu diterapkan dalam kasus bullying. Sebuah kasus bullying biasanya merupakan rangkaian dari sebuah kejadian. Maka untuk mencegahnya haruslah ditelusuri penyabab atau akar permasalahan awalnya. Dalam hal ini peran orang tua serta guru-guru sangatlah penting, dimana terutama guru sebagai fasilitator disekolah harus memahami bagaimana pencegahan bullying atau kekerasan di sekolah.

Dukungan dan pemahaman, hal ini dibutuhkan dari berbagai pihak. Orang tua dan guru harusalah saling mendukung dalam hal pencegahan  bullying ini, keterbukaan antar orang tua dan guru sebagai tim dalam mencegah bullying adalah penting. Dimana guru-guru membutuhkan support team untuk membantu mereka dalam melaksanakan tugas dengan tantangan yang ada di sekolah.

Semoga dengan pedulinya kita terhadap bullying dapat mencegah terjadinya kasus bullying.

 

 

Referensi:

https://www.apa.org/topics/bullying/

http://www.journal.unair.ac.id/download-fullpapers-artikel%205-14-1.pdf

24 thoughts on “Bagaimana Mencegah Bullying ?”

  1. Setuju mbak, bahwa mencegah itu lebih baik. Harus ada komitmen dan usaha kuat dari orangtua untuk menghindarkan bullying pada anak, baik sebagai korban maupun pelaku yaa.

      1. Bullying sering dianggap sepele. Padahal untuk korban bisa sangat traumatis dan menakutkan. Harus mulai ditumbuhkan kesadaran tentang bahaya bullying nggak cuma ke anak2. Tapi Juga ke guru Dan orangtuanya.

  2. Jangan sampai ya perundungan jadi budaya, kasihan perkembangan anak yang jadi korban, kita sebagai ortu dan guru harus selalu kerjasama untuk memperhatikan anak-anak ya

  3. Sedih kalau dengar tentang masalah perundungan karen aaku pun pernah mengalaminya…perundungan adalah momok bagi si korban kalau tidak kuat bisa depresimaka peran keluarga yang supportive terutama sangat dibutuhkan

  4. Awalnya anak saya yang SD suka ejek-ejek teman yang lain baik itu botak (rambutnya gundul) atau yang lain.lalu saya tegur baik-baik kalo hal itu gak baik dan jangan dilakukan lagi.

    Anak2 yang suka bully mungkin dari awal nggak pernah ada yang negur atau bahkan orangtuanya menganggap hal biasa

  5. Bullying selalu meninggalkan luka mendalam pada diri seseorang. Memang penting banget untuk bikin kondisi zero bullying di sekolah dan lingkungan pergaulan. Bisa dilakukan dengan memberi contoh terlebih dahulu kepada anak bahwa berkata kasar dan menyakitkan itu tidak baik. Soalnya kebanyakan anak yang berperilaku seperti itu belajar dari gaya berkomunikasi orangtuanya juga.

  6. Bener banget mb, bullying ini menyebabkan traumatik, padahal yang kena bully anak maya yang masih bayi, tapi efek traumanya malah ke maya yang jadi ketakutan jika ada anak-anak lain yang menedekat ke anak maya.Alhamdulillah setelah pindah rumah dan menjauh dari anak jahat dan lingkunganyang kurang baik itu, Trauma dan stress maya hilang.

  7. jika alternative pilihan adalah perubahan lingkungan sekolah dan ternyata hal itu sangat sulit, sepertinya keputusan untuk pindah sekolah jadi jalan keluarnya ya mbak. hiks.. jadi sedih …

  8. Anakku justru yang bullying gurunya, dan memang jadi kebiasaan karena korbannya tiap tahun selalu ada. Sekelas bareng anakku aja ada lebih dari 10 siswa yang ngalami dan mereka hanya bisa diam. Padahal udah kelas 5 SD, ngeri loh kalo pelaku bullying adalah orang dewasa dan notabene guru kelasnya sendiri

  9. Setuju mbaak..bullying harus dicegah sedini mungkin. Tapi sedihnya juga anak-anak melihat dari tayangan sinetron juga kan ya mbaa..huhuhu… Muridkuada yang niru begitu

  10. Pas zaman SD, dibully sama teman-teman, pengennya, ya, pindah sekolah, Mbak. Tapi, ya, mau pindah ke mana, wong ya adanya di situ-situ saja. Akhirnya, ya, terima nasib saja. Menyedihkan.

  11. Setuju mbak, orang tua harus peduli dengan kesehatan mental anaknya. Dan guru juga harus mau menerima masukan dan informasi dari orang tua.Perannya harus seimbang dan saling bekerjasama untuk memerangi bullying pada remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *